IMN, WAJO – Keluarga Mahasiswa (KEMA) Institut Ilmu Hukum dan Ekonomi Lamaddukelleng menggelar kegiatan Bina Akrab Mahasiswa dengan tema “Sejarah Memanggil” pada Senin (29/9/2025), bertempat di Tosora, Kabupaten Wajo.

Kegiatan ini diikuti 231 mahasiswa dari tiga program studi—Ilmu Hukum, Manajemen, dan Bisnis Digital—serta melibatkan seluruh organisasi internal KEMA Lamaddukelleng, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS).
Ketua HMPS Ilmu Hukum, Muhammad Alif Aprikansyah, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan adalah membangun solidaritas dan kekeluargaan.
“Ini adalah bina akrab antara mahasiswa baru dan mahasiswa senior. Selain untuk mempererat persaudaraan, juga agar mereka sadar bahwa kita berasal dari satu rahim yang sama, yakni sejarah Wajo,” ujarnya.
Kegiatan ini juga merupakan rangkaian Latihan Kepemimpinan 1 (LK 1) tingkat himpunan. Master of Training, Elis, menekankan bahwa kegiatan bukan sekadar formalitas.

“Bina akrab ini memberi kesempatan mahasiswa Lamaddukelleng untuk menyaksikan langsung situs-situs yang menjadi saksi sejarah kejayaan Wajo,” tuturnya.
Sementara itu, Master of Vice, Aswar, menegaskan bahwa pola perkaderan kini lebih adaptif.
“Perpoloncoan tidak relevan lagi. Kegiatan perkaderan harus menyesuaikan perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensi ujiannya,” katanya.

Adapun titik kegiatan berlangsung di sejumlah lokasi bersejarah di Tosora, antara lain:
1. Situs Cempa Makkajoangnge
2. Makam Arung Matoa Wajo ke-4
3. Makam Arung Matoa Wajo ke-23
4. Masjid Tua Tosora
5. Geddonge
Wakil Presiden Mahasiswa, Firdan Zafitra S., menegaskan pentingnya mahasiswa mengenal sejarah.
“Kita lahir dari sejarah. Salah satu tanda kemunduran bangsa adalah ketika mahasiswanya lupa akan sejarah,” tegasnya.
Kegiatan berjalan aman dan tertib berkat persiapan panitia serta dukungan tim medis dari UKM Mata Alam.
Di akhir kegiatan, Presiden Mahasiswa Hardiyan Iya menutup dengan apel reflektif.
“Kita berdiri di atas tanah Tosora bukan tanpa alasan. Ini panggilan sejarah. Tempat ini sakral secara agama dan sejarah. Mahasiswa hari ini harus sadar, Wajo berjaya bukan karena orang pintar yang diam, tetapi karena mereka yang memperjuangkan hak dan tanggung jawabnya. Mahasiswa bukan hanya datang kuliah dan pulang, tapi juga harus berdiri di atas kebenaran dan memperjuangkan keadilan,” pesannya.
Dengan semangat sejarah dan kebersamaan, kegiatan Bina Akrab Mahasiswa ini diharapkan mempererat persaudaraan sekaligus menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa Lamaddukelleng sebagai generasi penerus daerah dan bangsa.(DIYAN)












